Home / Edukasi Saham / Rasio Keuangan / Saham

Tuesday, 2 June 2020 - 16:44 WIB

DuPont Analysis: Definisi, Manfaat, dan Cara Hitung dari Laporan Keuangan

Carlos Muza/Unsplash

Carlos Muza/Unsplash

Apa itu DuPont Analysis?

Analisis DuPont adalah sebuah kerangka kerja untuk menganalisa kinerja fundamental perusahaan yang diperkenalkan oleh DuPont Corporation. DuPont analysis merupakan teknik yang bermanfaat untuk menguraikan komponen dalam perhitungan rasio return on equity (ROE). Penguraian komponen ROE memudahkan investor untuk lebih berkonsentrasi pada poin inti dari kinerja keuangan agar dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari sebuah perusahaan.

Ada tiga poin kunci dalam laporan keuangan yang mempengaruhi rasio return on equity (ROE), yaitu efisiensi operasional, efisiensi pendayagunaan aset dan porsi utang terhadap modal (financial leverage). Efisiensi operasional (operating efficiency) diwakili oleh marjin laba bersih (net profit margin), yang dihitung dengan cara membagi laba bersih dengan total penjualan (sales) atau pendapatan (revenue). Efisiensi penggunaan aset diukur melalui asset turnover ratio. Porsi utang diukur dengan equity multiplier, dihitung dengan rumus total aset dibagi dengan total ekuitas.

 

Rumus dan Perhitungan DuPont analysis

Analisis DuPont menggunakan rumus return on equity (ROE) yang dikembangkan, dihitung dengan mengalikan net profit margin dengan asset turnover dan equity multiplier. Sehingga formula untuk menghitung DuPont analysis menjadi:

Analisis DuPont = Net Profit Margin x Asset Turnover x Equity Multiplier

Dengan komponen rumus:

Net Profit Margin = Laba bersih / Pendapatan

Asset Turnover = Penjualan / Rata-rata Aset

Equity Multiplier = Rata-rata Aset / Rata-rata Ekuitas

Apa manfaat DuPont analysis?

Metode DuPont analysis ini digunakan untuk mengevaluasi komponen-komponen dari rasio return on equity (ROE) sebuah perusahaan. Dengan menggunakan metode ini investor dapat menentukan aktivitas keuangan mana yang paling berkontribusi terhadap perubahan ROE. Investor juga dapat menggunakan analisis DuPont untuk membandingkan efisiensi operasional dari dua perusahaan yang serupa. Para manajer keuangan juga dapat menggunakan metode DuPont analysis untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang harus diperbaiki.

 

Komponen DuPont analysis

Analisis DuPont membagi ROE sesuai komponen utamanya untuk menentukan faktor mana yang paling berpengaruh terhadap perubahan ROE.

 

Marjin Laba Bersih atau Net Profit Margin

Marjin laba bersih adalah rasio yang menggunakan hasil perhitungan terakhir dari sebuah laporan laba rugi (income statement / statement of profit or loss). Rasio ini membandingkan total laba bersih terhadap total penjualan / pendapatan perusahaan, dan merupakan ukuran dasar terhadap profit.

Cara yang paling mudah untuk mengerti marjin laba adalah dengan membayangkan sebuah toko yang menjual satu produk saja seharga Rp. 10.000. Setelah semua biaya terkait pembelian produk, perawatan toko, gaji pegawai, pajak, bunga utang, dan beban lain-lain, pemilik toko mendapat Rp. 1.000 sebagai laba dari setiap produk yang terjual. Berarti net profit margin atau marjin laba bersih pemilik toko adalah 10%, yang dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

Net Profit Margin = Laba bersih / Pendapatan = Rp. 1.000 / Rp. 10.000 = 10%


Marjin laba dapat meningkat jika biaya berkurang atau harga dinaikkan, yang dapat memberi pengaruh besar terhadap ROE. Hal ini merupakan salah satu penyebab kenapa harga saham perusahaan mengalami fluktuasi yang sangat kuat saat manajemen membuat perubahan terhadap proyeksi marjin laba, biaya, dan harga.

 

Asset Turnover Ratio

Asset turnover ratio adalah rasio yang mengukur seberapa efisiennya perusahaan menggunakan aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan. Bayangkan jika perusahaan memiliki rata-rata aset senilai Rp. 50 juta, dan menghasilkan total pendapatan sebesar Rp. 100 juta tahun lalu. Ini berarti aset perusahaan berhasil mencetak pendapatan 2 kali lipat dari nilainya sendiri, dan dihitung dengan rumus berikut ini:

Baca juga:  Rasio Aktivitas: Definisi, Manfaat, Analisa Fundamental

Asset Turnover Ratio = Pendapatan / Rata-rata Aset = Rp. 100 juta / Rp. 50 juta = 2

Pada umumnya asset turnover ratio berbeda-beda antara sektor industri yang satu dengan yang lain. Contohnya, sebuah perusahaan ritel menghasilkan pendapatan yang besar dari asetnya tapi dengan marjin yang kecil, sehingga membuat asset turnover rationya sangat besar. Sebaliknya, sebuah perusahaan utilitas mempunyai aset tetap (fixed assets) yang sangat tinggi nilainya jika dibandingkan dengan pendapatan, sehingga akan menurunkan nilai rasio asset turnover sangat jauh dibandingkan perusahaan ritel.

Rasio ini dapat membantu saat membandingkan dua perusahaan yang sangat mirip. Karena aset mencakup komponen lain seperti persediaan barang dagangan, maka perubahan pada rasio ini dapat menandakan penjualan yang sedang turun atau naik yang kemudian akan terpampang nilainya dalam laporan keuangan. Jika asset turnover ratio sebuah perusahaan meningkat, maka ROE juga akan ikut naik.

Equity Multiplier

Equity multiplier atau yang dikenal sebagai financial leverage, secara tidak langsung menganalisis penggunaan utang perusahaan untuk membeli aset. Anggaplah sebuah perusahaan mempunyai aset senilai Rp. 100juta dan modal dari pemegang sahamnya sebesar Rp. 25 juta. Dari neraca keuangan (balance sheet) akan terlihat bahwa perusahaan memiliki utang sebesar Rp. 75 juta (aset – modal = utang). Jika perusahaan terus meminjam uang untuk membeli aset, maka rasio ini akan naik. Seluruh akun-akun yang digunakan untuk menghitung financial leverage terdapat dalam neraca keuangan, sehingga Anda menggunakan rumus berikut ini untuk menghitung financial leverage:

Financial Leverage = Aset / Ekuitas = Rp. 100 juta / Rp. 25 juta = 4

Kebanyakan perusahaan harus menggunakan utang dan modal bersamaan demi membiayai operasional dan ekspansi. Jika tidak menggunakan utang juga tidak baik, karena dapat menghabiskan dana kas internal perusahaan terlalu besar, sehingga tidak terdapat cadangan jika perusahaan sedang mengalami masa terburuk. Akan tetapi, terlalu banyak berutang untuk meningkatkan financial leverage dan ROE, juga menciptakan risiko besar karena porsi utang yang tidak proporsional terhadap ekuitas.

 

 

Contoh perhitungan analisis DuPont dari laporan keuangan emiten IHSG

Sebagai seorang investor, Anda tentu harus membiasakan diri dengan laporan keuangan emiten saham. Kali ini kita akan menggunakan DuPont analysis untuk menganalisa laporan keuangan PT. Mayora Indah Tbk. (MYOR) dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Kedua emiten ini sama-sama berada di sektor industri consumer dengan bisnis yang serupa yaitu produk FMCG.

 

 

 INDF

 

 MYOR

 (dalam jutaan rupiah)

 2020

 2019

 

 2020

 2019

 Laba Bersih

   1,805,109

   1,634,302

 

      949,829

      480,083

 Pendapatan

  19,304,795

  19,169,840

 

   5,379,573

   6,013,763

 Net Profit Margin

9.4%

8.5%

 

17.7%

8.0%

 Pendapatan

  19,304,795

  19,169,840

 

   5,379,573

   6,013,763

 Rata-rata Aset

  99,430,397

  96,368,178

 

  19,256,233

  17,495,290

 Asset Turnover Ratio

0.19

0.20

 

0.28

0.34

 Rata-rata Aset

  99,430,397

  96,198,559

 

  19,256,233

  17,495,290

 Rata-rata Ekuitas

  55,386,459

  50,858,888

 

  10,846,853

   8,783,819

 Equity Multiplier

             1.8

             1.9

 

             1.8

             2.0

 ROE Analisis DuPont

3.3%

3.2%

 

8.8%

5.5%

Baca juga:  Earnings per Share (EPS) – Definisi, Rumus, dan Cara Menghitung

 

Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa kedua perusahaan sama-sama mengalami peningkatan net profit margin, hanya MYOR meningkat 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya karena dengan pendapatan yang turun dan rata-rata aset yang meningkat, berarti penjualan PT. Mayora Indah Tbk. sedang mengalami penurunan dan terjadi penumpukan persediaan di gudang. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata MYOR memperoleh laba sebesar Rp. 605 miliar dari selisih kurs, tapi bukan dari sisi operasional sehingga tidak dapat dikatakan adanya keberhasilan manajemen yang signifikan dalam mengelola perusahaan menghadapi pandemi Covid-19. Sewajarnya investor waspada terhadap praktik creative accounting di saat seperti ini agar terhindar dari kerugian.  Pada sisi INDF terdapat sedikit peningkatan dalam penjualan dan laba bersih, juga terhadap keseluruhan struktur komponen analisis DuPont. Sangat tipikal sebuah saham blue chip dengan pasar yang sudah matang, di mana pendapatan dan laba bersih akan naik perlahan namun pasti setiap tahunnya.

 

Perbandingan DuPont analysis dan ROE

Analisis DuPont adalah versi penjabaran dari return on equity (ROE), di mana kedua rasio ini sama-sama menilai tinggi rendahnya perolehan laba bersih terhadap ekuitas.

Dengan analisis DuPont, investor dan analis dapat menggali lebih dalam untuk mencari faktor apa yang paling berkontribusi terhadap perubahan ROE. DuPont analysis dapat membantu menyimpulkan apakah proft, pemanfaatan aset, atau penambahan utang yang merubah ROE.

 

Keterbatasan analisis DuPont

Kekurangan terbesar dari analisis DuPont adalah walaupun lebih detil, namun analisis ini masih bergantung kepada perlakuan akuntansi yang data tersebut dapat dimanipulasi. Analisis DuPont juga tidak dapat menjelaskan kenapa salah satu rasio dapat naik atau turun, atau dapat dikategorikan tinggi atau rendah. Seperti halnya dalam contoh perhitungan di atas, jika kita tidak meneliti lebih jauh untuk mencari alasan kenapa net profit margin PT. Mayora Indah Tbk. (MYOR) dapat naik hingga 2 kali lipat, kita tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam proses pencatatan akuntansi MYOR dalam periode 3 bulan pertama atau kuartal pertama tahun 2020.  

 

Kesimpulan

Analisis DuPont merupakan kerangka untuk menganalisa kinerja fundamental yang diperkenalkan pertama kali oleh DuPont Corporation. Analisa ini menggunakan teknik yang berguna untuk membagi faktor perubah return on equity (ROE) menjadi beberapa bagian. Investor dapat menggunakan DuPont analysis untuk membandingkan efisiensi kinerja dua perusahaan yang serupa dalam sektor industri yang sama. Dengan metode ini dapat terlihat di mana letak kekuatan dan kelemahan perusahaan yang harus lebih diperhatikan dari laporan keuangan.

 

Terima kasih telah membaca artikel pendek mengenai perbedaan market value dan market capitalization dari COCOshoppers. Baca juga tentang rights issue dan interest coverage ratio untuk menambah wawasan keuangan Anda. Jangan lupa terus #dirumahaja agar wabah #Covid-19 segera berlalu. Selamat mencoba, sukses terus!

 

Share :

Baca Juga

apa efek pasar saham pada harga komoditi

Edukasi Saham

Efek Pasar Saham pada Harga Komoditi
dilusi saham, rights issue dan hmetd, apa maksudnya saham terdilusi atau stock dilution?

Edukasi Saham

Dilusi Saham, Rights Issue dan HMETD
faktor penentu pergerakan harga saham dan pasar modal

Edukasi Saham

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Arah Pergerakan Harga Saham
cara mencari enterprise value (EV) dan enterprise value multiple (EV/EBITDA) dari dalam laporan keuangan

Edukasi Saham

Enterprise Value (EV) dan Enterprise Value Multiple: Definisi, Manfaat, dan Cara Hitung Dari Laporan Keuangan
Rumus Menghitung Earnings per Share (EPS) atau laba per saham

Edukasi Saham

Earnings per Share (EPS) – Definisi, Rumus, dan Cara Menghitung
koreksi pasar saham terdalam di indonesia, kenapa alasannya

Edukasi Saham

Kenapa Pasar Saham Melakukan Koreksi?
warren buffet rugi tahun 2020, apa pernah warren buffet rugi?

Saham

Warren Buffet Rugi Besar Gegara Corona?
memahami economies of scale bagi perusahaan publik dan ukm (usaha kecil menengah), bagaimana cara mencapainya dan apa manfaatnya

Edukasi Saham

Economies of Scale: Definisi dan Apa Manfaatnya Bagi Perusahaan