Home / Rasio Keuangan / Saham

Friday, 5 June 2020 - 00:04 WIB

Gross Margin: Definisi dan Rumus Menghitung

Apa itu Gross Margin?

Gross margin dapat didefinisikan sebagai pendapatan yang tersisa bagi perusahaan setelah dikurangi dengan harga pokok produksi (cost of goods sold / COGS). Dengan kata lain, gross margin adalah sekian rupiah dari hasil penjualan yang ditahan oleh perusahaan setelah membayar seluruh biaya langsung terkait produksi barang dagangan dan jasa yang dijual. Semakin tinggi marjin ini, maka semakin besar jumlah modal yang diperoleh kembali bagi perusahaan dari setiap penjualannya, yang dapat digunakan untuk membayar biaya lain-lain atau melunasi kewajibannya. Angka penjualan dalam akun pendapatan masih berupa pendapatan kotor karena belum dikurangi dengan retur, diskon, dan tunjangan.

 

Rumus Gross Margin

Rumus atau cara yang paling mudah digunakan untuk menghitung Gross Margin adalah:

Penjualan bersih – Harga pokok produksi

 

Komponen Rumus

Penjualan bersih adalah seluruh pendapatan usaha yang didapatkan dari operasional perusahaan, dapat dicari dalam laporan laba rugi (income statement)

Harga pokok produksi (HPP) adalah seluruh biaya yang terkait dalam proses pembuatan barang dagangan. HPP yang juga seringkali disebut dengan COGS merupakan unsur biaya yang krusial dalam laporan keuangan karena menjadi tolak ukur tinggi rendahnya economies of scale dari sebuah perusahaan manufaktur.

 

Contoh Singkat Perhitungannya

Sebagai ilustrasi dari perhitungan singkat, kita menggunakan PT. ABC sebagai perusahaan yang tengah beroperasi di tahun 2020, dan mendapatkan penjualan sebesar Rp. 200 miliar selama periode triwulan pertama (Q1). Apabila PT. ABC membutuhkan Rp. 100 miliar untuk pengadaan bahan baku dan Rp. 50 miliar untuk membayar gaji karyawannya, maka setelah mengurangi semua biaya-biaya tersebut PT. ABC memiliki marjin kotor sebesar Rp. 50 miliar.

Baca juga:  Warren Buffet Rugi Besar Gegara Corona?

Apa Manfaat dari Perhitungannya?

Marjin kotor sebenarnya mewakili porsi laba kotor yang didapatkan perusahaan dari total penjualannya. Misal sebuah perusahaan memiliki marjin kotor sebesar 25%, berarti perusahaan memiliki laba kotor Rp. 2,5 juta dari setiap Rp. 10 juta penjualan. Karena HPP telah dikeluarkan dari laba kotor, berarti dana penjualan yang tersisa dapat dipakai untuk membayar utang, biaya operasional kantor dan administrasi, beban bunga, hingga pembagian dividen kepada para pemegang saham.

Perusahaan menggunakan marjin ini untuk mengukur seberapa besar pengaruh biaya produksi terhadap penjualan. Jika marjin kotor perusahaan turun, maka manajemen akan mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah pegawai atau mencari supplier bahan baku dengan harga yang lebih murah agar marjin dapat terangkat kembali. Atau bisa juga dengan meningkatkan harga jual produknya apabila kedua cara di atas tidak mungkin dilaksanakan. Marjin kotor atau marjin laba kotor ini juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan atau untuk membandingkan dua perusahaan dengan besaran market cap yang berbeda.

Baca juga:  5 Rasio Analisa Fundamental Saham yang Wajib Diketahui Value Investor

Perbedaan Gross Margin dan Net Margin

Jika gross margin hanya berpusat pada hubungan antara pendapatan dan HPP, maka net margin mencakup seluruh biaya usaha dalam perhitungannya. Saat menghitung net margin, perusahaan akan mengurangkan HPP dan biaya tambahan lain seperti ongkos kirim, gaji dan bonus para sales, biaya operasional lain-lain, juga pajak, terhadap pendapatan.

Disebut juga dengan gross profit margin atau marjin laba kotor, marjin ini berguna untuk membantu perusahaan menilai profitabilitas dari operasional produksi, sedangkan net margin atau net profit margin membantu perusahaan untuk menilai profitabilitas secara menyeluruh, karena mencakup biaya operasional perusahaan dan pajak yang harus dibayar.

Kesimpulan

Gross margin merupakan hasil pendapatan yang tersisa setelah dikurangi seluruh biaya produksi alias HPP. Bagi sebuah perusahaan, gross margin dapat membantu menilai seberapa efisien operasional manufaktur yang dijalankannya agar hasil penjualan yang tersisa masih mencukupi pembayaran biaya operasional yang lain dan utang perusahaan. Marjin yang juga sering disebut dengan gross profit margin ini dinilai dalam format sekian persentase dari penjualan bersih.

Terima kasih telah membaca artikel pendek mengenai perbedaan market value dan market capitalization dari COCOshoppers. Baca juga tentang net working capital dan DuPont analysis. Jangan lupa terus #dirumahaja agar #Covid-19 segera berlalu. Selamat mencoba, sukses terus!

Share :

Baca Juga

Rumus Menghitung Earnings per Share (EPS) atau laba per saham

Edukasi Saham

Earnings per Share (EPS) – Definisi, Rumus, dan Cara Menghitung
6 rasio keuangan dasar yang wajib diketahui dan dipahami semua investor saham pemula

Edukasi Saham

6 Rasio Keuangan Dasar yang Wajib Diketahui Investor Pemula
apa saja faktor yang mempengaruhi atau berpengaruh terhadap rasio per (price to earnings ratio) saham

Edukasi Saham

Apa yang Mempengaruhi Price to Earnings Ratio (PER)?
supply dan demand di pasar saham, supply and demand in stock market trading

Edukasi Saham

Supply dan Demand dalam Pasar Saham
fungsi rasio ROE dalam mencari saham profit tinggi

Edukasi Saham

Bagaimana Rasio Return on Equity (ROE) Dapat Membantu Menemukan Saham yang Menguntungkan?
koreksi pasar saham terdalam di indonesia, kenapa alasannya

Edukasi Saham

Kenapa Pasar Saham Melakukan Koreksi?
cara mencari enterprise value (EV) dan enterprise value multiple (EV/EBITDA) dari dalam laporan keuangan

Edukasi Saham

Enterprise Value (EV) dan Enterprise Value Multiple: Definisi, Manfaat, dan Cara Hitung Dari Laporan Keuangan
cara menghitung free cash flow (FCF), rumus, formula, how to calculate arus kas bebas from financial statement

Edukasi Saham

Rumus dan Cara Menghitung Free Cash Flow (FCF) dari Laporan Keuangan