1. Investor Radar
  2. Bisnis
  3. Finance & Accounting
  4. Rasio Keuangan
  5. Gross Profit Margin: Definisi, Rumus, Analisa

Gross Profit Margin: Definisi, Rumus, Analisa


By

Updated

Apa itu Gross Profit Margin?

Gross profit margin atau dalam bahasa Indonesia disebut marjin laba kotor adalah ukuran yang digunakan analis dan investor untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan dengan menghitung jumlah uang yang tersisa dari penjualan (sales) setelah dikurangi biaya produksi (cost of goods sold / COGS). Gross profit margin kadang disebut juga gross margin ratio, sehingga sering dihitung dalam bentuk persentase.

Rumus Gross Profit Margin

Cara menghitung gross profit margin adalah dengan menggunakan rumus:

rumus dan cara menghitung gross profit margin atau marjin laba kotor, how to calculate gross profit margin and what is the formula

Komponen rumus Gross Profit Margin

Penjualan, merupakan penjualan bersih yang dihitung dengan cara mengurangi penjualan kotor dengan retur (return), potongan harga (allowance), dan diskon (discount). Allowance dan discount dalam akuntansi mempunyai maksud yang berbeda. Allowance merupakan potongan harga yang biasa diberikan apabila barang ternyata rusak atau cacat setelah sampai di tempat customer. Sedangkan discount lebih berorientasi kepada program penjualan dan marketing perusahaan, dan bisa juga sebagai pengurang harga dalam termin pembayaran setelah faktur (invoice) dikirim ke customer.

Biaya produksi, disebut juga cost of goods sold dalam akuntansi biaya yang umum digunakan oleh perusahaan manufaktur, dihitung dengan cara menambah persediaan awal dengan pembelian, lalu dikurangi dengan nilai persediaan akhir.

 

Apa informasi yang didapat?

Jika sebuah perusahaan mempunyai gross margin yang sangat fluktuatif, ini menandakan manajemen produksi yang buruk dan /atau banyak produk cacat yang diproduksi. Namun fluktuasi marjin laba kotor bisa diabaikan apabila perusahaan sedang melakukan perubahan total pada lini produksinya, yang menyebabkan rendahnya marjin laba kotor. Apabila perusahaan menerapkan sistem baru yang lebih efisien, seperti otomatisasi pabrik, maka marjin juga bisa meningkat tajam.

Penetapan harga jual barang (product pricing) juga ikut menentukan gross margin. Jika perusahaan menjual barang dengan harga premium, maka gross margin yang didapat akan lebih tinggi. Tapi bila barang berharga premium ini kualitasnya biasa-biasa saja, maka pangsa pasar yang diperoleh perusahaan akan sangat kecil karena barang tersebut kurang diminati oleh customer.

 

Contoh analisa dengan Gross Profit Margin

Misalkan kita ingin membandingkan 2 perusahaan dalam sebuah sektor industri, kita bisa ambil contoh GGRM dan HMSP yang sama-sama memproduksi rokok. Jika GGRM berinvestasi besar-besaran dengan membeli mesin baru dan merombak rantai pasokan bahan baku sehingga biaya produksi tinggal 50% dari semula, maka GGRM akan menikmati peningkatan marjin laba kotor yang tajam, sehingga net profit margin (NPM) dan earnings per share (EPS) juga akan meningkat secara signifikan. Peningkatan EPS biasanya selalu mendorong harga saham naik.

HMSP dalam kondisi ini berusaha menaikkan marjin laba kotornya dengan cara menaikkan harga 2 kali lipat, dengan harapan dapat menyaingi GGRM dan mendorong naik harga saham. Sayangnya, strategi bisnis ini justru menjadi “senjata makan tuan” bagi HMSP karena customer merasa terganggu dengan tingginya harga, sehingga merugikan HMSP tidak hanya penjualan tapi juga gross margin dan pangsa pasar.

 

Kesimpulan

Gross profit margin merupakan analisis yang mengukur efisiensi operasional perusahaan dengan membandingkan penjualan bersih terhadap biaya produksinya. Karena berkaitan erat dengan produksi, maka gross margin juga sering digunakan untuk menilai apakah perusahaan perlu melakukan reformasi bisnis atau pabrik jika marjin terlalu rendah saat dibandingkan dengan perusahaan yang berkompetisi langsung dalam pangsa pasar yang sama.

 

Semoga artikel marjin laba kotor ini dapat berguna bagi pembaca dalam mempertajam analisa fundamental saham. Baca juga artikel tentang 4 rasio keuangan dasar untuk menilai harga wajar saham dan tips memilih saham dari Lo Kheng Hong dan Warren Buffet. Selalu #stayathome agar Covid-19 cepat berlalu. Terus sukses.

 

Menu