Home / Rasio Keuangan / Saham

Friday, 5 June 2020 - 18:35 WIB

Memahami Pentingnya Analisa Operating Margin

Analisa operating margin dapat memberikan informasi yang sangat penting kepada investor mengenai nilai dan profitabilitas sebuah perusahaan. Hasil dari penilaian sangat berpengaruh dalam analisis sebuah saham. Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah saham, investor harus memperhatikan beberapa faktor utama yang mengindikasikan seberapa baik kinerja perusahaan saat ini dan seberapa menguntungkan investasi saham tersebut di masa depan. Analisis seperti ini banyak dikenal sebagai analisis fundamental.

Dalam proses analisa operating margin perusahaan, investor juga harus memahami tentang laba dari operasional (operating income), pengeluaran operasional (operating expenses), dan perbedaan antara biaya tetap (fixed costs) dengan biaya variabel (variable costs).

 

Kenapa operating margin itu penting?

Laba operasional, atau juga yang dikenal sebagai operating earnings, adalah jumlah pendapatan yang masih tersisa bagi perusahaan setelah dikurangi dengan beban operasional dalam kurun waktu tertentu, seperti dalam masa kuartalan (quarter) atau tahunan (annual). Operating profit margin dinyatakan dalam persentase setelah laba operasional dari kurun waktu yang telah ditentukan dibagi dengan pendapatan pada kurun waktu yang sama.

Supaya hasil analisa operating margin akurat, marjin ini harus digunakan pada perbandingan antara perusahaan yang beroperasi dalam industri yang sama dan juga memiliki bisnis yang serupa.

Dengan mengacu pada komponen perhitungannya, hasil dari analisa operating margin juga dapat didefinisikan sebagai sekian persentase dari pendapatan yang tersedia bagi perusahaan untuk membayar kembali kepada para investor, baik investor saham perusahaan atau pemberi pinjaman, dan untuk membayar pajak perusahaan. Marjin ini merupakan ukuran penting dalam menganalisa nilai sebuah saham, dan persentase yang semakin besar semakin baik. Dengan menggunakan persentase juga memudahkan perbandingan kinerja antar perusahaan dan analisa kinerja operasional suatu perusahaan melalui berbagai rasio terkait pendapatan (revenue).

 

Biaya tetap dan variabel

Pendapatan dapat diperoleh dalam berbagai cara tergantung pada tipe usaha yang dijalankan. Sama halnya dengan pendapatan, beban operasional juga terjadi akibat berbagai hal yang dapat dikategorikan sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Karena beban operasional adalah komponen utama dalam menghitung operating margin perusahaan, maka penting juga bagi investor untuk memahami dari mana biaya tetap dan variabel ini berasal.

 

Biaya tetap

Para analis seringkali memilah pengeluaran sesuai karakter alaminya, apakah bersifat tetap atau tergantung pada kejadian tertentu. Biaya tetap adalah biaya yang selalu ada, dengan nilai yang stabil, bahkan saat aktivitas usaha berubah sekalipun. Biaya sewa merupakan contoh dari salah satu biaya tetap yang ada. Jika sebuah perusahaan menyewa atau mencicil sebuah tempat usaha, perusahaan tersebut harus membayar sejumlah uang setiap bulan atau tahun sesuai dengan perjanjian dengan pemilik tempat usaha. Jumlah uang yang dibayarkan ini tidak berubah tanpa memandang apakah bisnis sedang naik atau turun, atau bahkan usaha masih berlangsung atau tidak.

 

Biaya variabel

Kebalikan dari biaya tetap, sebuah biaya variabel adalah biaya yang nilainya selalu berubah-ubah mengikuti aktivitas bisnis perusahaan. Salah satu contohnya adalah biaya bahan baku dalam sebuah operasional pabrik. Perusahaan manufaktur harus membeli bahan baku sejumlah target penjualan, sehinga biaya bahan baku akan ikut naik saat penjualan meningkat.

Baca juga:  Hubungan Antara Nilai Saham dengan Harga Saham

 

Maksimalisasi operasional

Menganalisa biaya tetap dan variabel perusahaan, yang disebut sebagai maksimalisasi operasional (operating leverage), seringkali menjadi krusial saat menganalisa operating margin dan cash flow perusahaan.

Saat pendapatan meningkat, operating margin dari perusahaan yang mempunyai biaya tetap besar akan naik lebih cepat daripada perusahaan yang mempunyai biaya variabel lebih besar, begitu juga kebalikannya.

Karena analisis ekuitas melibatkan proyeksi hasil operasional yang akan datang, memahami biaya tetap juga menjadi penting. Analis harus memahami seperti apa operating margin akan berubah nantinya dengan menggunakan asumsi pertumbuhan pendapatan tertentu.

 

Memperhitungkan faktor Harga Pokok Penjualan

Salah satu biaya yang utama dan penting dari pengeluaran perusahaan adalah harga pokok penjualan (costs of goods sold / COGS). Untuk perusahaan yang menjual barang yangdiproduksi sendiri, harga pokok penjualan adalah cara yang digunakan dalam menilai jumlah persediaan (inventory).

Rumus dasar untuk menghitung harga pokok penjualan atau COGS adalah:

HPP = Persediaan awal + Pembelian – Persediaan akhir

Manfaat menghitung HPP adalah untuk menghitung jumlah persediaan barang dagangan yang terjual dalam satu periode, di mana pembelian yang terjadi dalam periode tersebut bisa naik atau turun. Dengan menghitung selisih bersih antara persediaan awal dan akhir, perusahaan dapat menilai HPP terbaru dari produk terjual dalam periode yang sama.

Pendapatan dikurangi HPP akan menghasilkan laba kotor, yang merupakan komponen penting dari laba hasil operasional (operating income). Laba kotor menghitung jumlah laba yang dihasilkan sebelum biaya overhead diikutkan dalam perhitungan, seperti beban penjualan, beban umum, dan beban administrasi (selling, general, and administrative expenses / SG&A). Beban SG&A dapat mencakup gaji staf administrasi atau biaya iklan dan promosi.

Laba kotor jika dibagi dengan penjualan akan menghasilkan sekian persentase yang disebut gross margin atau gross profit margin. Menganalisa marjin kotor merupakan hal terpenting dalam analisa proyeksi ekuitas karena HPP sering menjadi pengeluaran terbesar pada sebuah perusahaan dan dapat ditemukan dalam laporan laba rugi (income statement). Analis sering memperhatikan gross margin saat membandingkan beberapa perusahaan atau menilai riwayat kinerja sebuah perusahaan.

 

Pertimbangan khusus

Pengeluaran non kas

Investor juga harus memahami perbedaan antara pengeluaran kas dan pengeluaran non kas saat menganalisa hasil operasi sebuah bisnis. Pengeluaran non kas adalah salah satu pengeluaran yang tercatat dalam laporan laba rugi yang tidak melibatkan pergerakan uang tunai. Salah satu contohnya adalah biaya depresiasi (depreciation). Mengacu kepada GAAP (generally accepted accounting principles), saat sebuah perusahaan membeli aset tetap yang memiliki umur ekonomis panjang (long-term asset) seperti mesin pabrik dan alat berat, jumlah yang dibayarkan pada aset tersebut tidak dicatat seperti halnya beban sewa atau biaya bahan baku.

Baca juga:  Bagaimana Cara Warren Buffet Memilih Saham yang Menguntungkan?

Biaya pada aset akan disebarkan sepanjang umur ekonomis dari perlengkapan tersebut, dan oleh karena itu sejumlah kecil dari biaya aset akan dialokasikan pada laporan laba rugi setiap tahunnya dalam akun biaya depresiasi, walaupun tidak terjadi pergerakan uang dalam pencatatannya. Pengeluaran non kas seringkali dicatat pada bagian pengeluaran lain-lain dalam laporan laba arugi. Sebagai cara yang baik untuk memahami efek dari pengeluaran non kas adalah dengan meneliti bagian operasional dari laporan perubahan kas (cash flow statement).

Karena pengeluaran non kas inilah maka laba operasional berbeda dengan cash flow operasional. Investor harus bijak dalam mempertimbangkan berapa porsi yang ideal dari laba operasional setelah dikurangi dengan pengeluaran non kas.

 

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi

Lebih sering disebut EBITDA oleh para analis (singkatan dari earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization), laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi digunakan untuk mengukur laba operasional yang memiliki pergerakan kas dalam pencatatannya.

Karena tidak menyertakan pengeluaran non kas, EBITDA sedikit lebih baik daripada laba operasional dalam mengukur cash flow yang dihasilkan dari operasional yang tersedia bagi investor. Kenapa EBITDA penting bagi investor? Alasannya simpel, karena dividen yang dibagikan kepada investor diambil dari kas perusahaan, bukan laba. Mirip dengan gross magin dan operating margin, analis menggunakan EBITDA untuk menghitung EBITDA margin, dan menggunakan hasil perhitungannya untuk melakukan perbandingan antara perusahaan dan menganalisa riwayat kinerja perusahaan.

 

Kesimpulan

Agar dapat menilai saham secara tepat, investor harus memiliki pemahaman yang memadai terhadap kemampuan perusahaan untuk menciptakan cash flow positif dari operasional bisnisnya. Karena itulah penting bagi investor untuk memahami konsep dari laba operasional dan EBITDA. Sama dengan kebanyakan analisa keuangan lainnya, dengan menghitung operating margin, seorang investor dapat mengukur kemampuan perusahaan mencetak laba dari operasional bisnisnya sebagai bagian dari persaingan usaha dalam sektor industri yang dijalani perusahaan.

Operating margin adalah ukuran yang penting terhadap besarnya laba yang dicapai oleh perusahaan setelah dikurangi dengan biaya variabel produksi seperti biaya bahan baku dan gaji buruh. Setiap perusahaan membutuhkan operating margin yang cukup agar dapat membayar beban bunga dan pajak. Dengan operating margin yang tinggi, perusahaan mempunyai risiko yang lebih rendah untuk dibeli sahamnya daripada perusahaan dengan marjin laba operasional yang rendah. Sebagai tambahan dalam menilai operating margin, investor yang melakukan analisis fundamental terhadap suatu saham juga harus memperluas analisanya pada HPP, pengeluaran non kas, dan EBITDA.

Baca juga tentang rasio aktivitas dan debt to equity ratio yang tidak kalah pentingnya dalam analisa fundamental saham. Jangan lupa terus #dirumahaja agar #Covid-19 segera berlalu. Sukses terus!

 

Share :

Baca Juga

harga minyak dunia merosot, begini rekomendasi saham emiten dari analis

Edukasi Saham

Harga Minyak Dunia dan Efeknya Pada Pasar Saham
definisi piutang dagang dalam perusahaan, dan apa kegunaannya dalam dunia usaha

Edukasi Saham

Piutang Dagang, Definisi dan Fungsi

Edukasi Saham

Pentingnya Mengetahui Nilai Saham Bagi Investor Pemula
dilusi saham, rights issue dan hmetd, apa maksudnya saham terdilusi atau stock dilution?

Edukasi Saham

Dilusi Saham, Rights Issue dan HMETD
definisi working capital atau net working capital, apa itu working capital atau net working capital, cara menghitung dan rumus atau formula dari working capital dan net working capital

Edukasi Saham

Bagaimana Cara Menghitung Working Capital / Net Working Capital?
memahami economies of scale bagi perusahaan publik dan ukm (usaha kecil menengah), bagaimana cara mencapainya dan apa manfaatnya

Edukasi Saham

Economies of Scale: Definisi dan Apa Manfaatnya Bagi Perusahaan
rasio solvabilitas perusahaan yang penting bagi investor dalam analisa fundamental saham perusahaan, solvency ratios for traders

Edukasi Saham

Solvabilitas (Solvency): Definisi dan Analisa Kesehatan Keuangan
mengetahui dan memahami perbedaan antara gross margin dan operating margin dari laporan keuangan perusahaan publik alias emiten agar mengetahui perubahan harga saham sewaktu-waktu berdasarkan kinerja saat ini yang terbaru

Rasio Keuangan

Gross Margin dan Operating Margin, Apa Perbedaannya?