Sample ADS

  1. Home
  2. Investor Radar
  3. Bisnis
  4. Finance & Accounting
  5. Laporan Keuangan
  6. Operating Margin: Definisi, Cara Hitung, dan Manfaat
Operating Margin: Definisi, Cara Hitung, dan Manfaat

By

Updated

Apa itu operating margin?

Operating margin adalah ukuran terhadap besaran laba yang dihasilkan dari setiap penjualan yang diperoleh perusahaan setelah membayar biaya variabel produksi, seperti gaji dan bahan baku, tapi sebelum membayar beban bunga dan pajak. Sebagai bagian dari rasio profitabilitas, marjin ini dihitung dengan cara membagi laba operasional perusahaan dengan penjualan bersihnya.

Rumus dan cara menghitung operating margin

Rumus untuk menghitung marjin operasional adalah:

Operating Margin = Laba operasional / Pendapatan

Saat melakukan perhitungan, harap diingat bahwa laba operasional sama dengan laba sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and taxes / EBIT) yang sangat mudah dicari dalam laporan laba rugi (income statement). EBIT merupakan hasil pengurangan pendapatan dari harga pokok produksi (cost of goods sold / COGS) dan biaya umum terkait penjualan dan administrasi, tanpa utang dan bunga.

Sehingga, investor cukup membagi laba operasional atau EBIT dengan penjualan bersih yang didapat dari laporan laba rugi.

Sedangkan cara menghitung EBIT adalah dengan menggunakan rumus:

EBIT = Laba kotor – (Beban operasional + Depresiasi + Amortisasi)

 

Apa manfaat menghitung operating margin?

Operating margin sebuah perusahaan merupakan sebuah indikator seberapa baiknya pengelolaan perusahaan dan seberapa besar risiko yang berhubungan dengan bisnis yang dijalaninya. Dengan menunjukkan porsi tersisa dari penjualan, maka perusahaan dapat menilai apakah pendapatan yang diperoleh mencukupi atau tidak untuk membayar biaya non operasional, seperti beban bunga dan dividen. Alasan inilah yang menyebabkan investor dan kreditur sangat memperhatikan marjin tersebut. Nilai marjin yang berubah-ubah merupakan pertanda utama akan risiko pada bisnis perusahaan. Dengan memperhatikan operating margin perusahaan selama beberapa tahun ke belakang dapat memberikan gambaran kepada investor untuk ukuran laba dan dividen yang akan dibagikan. Kreditur juga dapat menilai kesanggupan perusahaan untuk membayar bunga utangnya melalui operating margin.

 

Keterbatasan

Marjin operasional hanya dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan yang bergerak di bidang industri yang sama, dan juga lini bisnis dan penjualan yang serupa. Perusahaan yang berbeda sektor industrinya memiliki marjin yang terkadang sangat berbeda jauh, sehingga membandingkan keduanya tidak akan menghasilkan petunjuk apapun terhadap kinerja dan profitabilitas kedua perusahaan.

Untuk mempermudah perbandingan antara perusahaan dan sektor industri yang berbeda, kebanyakan analis menghitung rasio profitabilitas dengan laba yang tidak dipengaruhi oleh aktivitas pembiayaan, pajak dan pencatatan akuntansi, yaitu laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization / EBITDA). Misalnya, untuk membandingkan perusahaan manufaktur besar dengan industri alat berat, penambahan kembali depresiasi dan amortisasi menjadikan kedua perusahaan tersebut lebih mudah untuk dibandingkan.

EBITDA juga terkadang digunakan sebagai pengganti operating cash flow karena tidak memasukkan pengeluaran non kas seperti depresiasi dan amortisasi. Tapi EBITDA tetap tidak bisa disamakan dengan cash flow karena tidak terdapat penyesuaian jika terjadi perubahan seperti kenaikan working capital atau perhitungan belanja modal (capital expenditure / CAPEX) untuk peningkatan produksi dan merawat aset seperti halnya operating cash flow.

Manfaat lain dari menghitung operating margin

Marjin ini kadang juga digunakan oleh para manajer untuk mencari proyek mana yang paling berkontribusi terhadap laba perusahaan. Sayangnya proses ini terkendala alokasi biaya overhead yang kompleks.

Untuk memahami operating margin secara lebih mendalam Anda dapat membaca artikel tentang cara menganalisa operating margin.

Baca juga tentang rasio price/earnings to growth dan acid test yang tidak kalah pentingnya dalam analisa fundamental saham. Jangan lupa terus #dirumahaja agar #Covid-19 segera berlalu. Sukses terus!

Sample ADS

Sample ADS

Sample ADS

Sample ADS

Menu